Skip to main content

Menggali Kembali Makna Menulis Melalui BloggerDay BCC 2025

komunitas Bloggercrony


“Aku mau hidup 1000 tahun lagi”! Saya kembali teringat pernah mengutip puisi Chairil Anwar itu pada 8 Juli 2012 lalu sebagai sebuah alasan mengapa saya menulis. 

Alasan itu mulai lahir ketika saya sadar bahwa setiap dari yang hidup suatu saat akan mati. Jika gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang maka bagi saya manusia mati harus meninggalkan jejak tulisan agar bisa terus hidup hingga 100 bahkan 1000 tahun lamanya.

Chairil Anwar berpulang pada 28 April 1949 tapi hingga kini buah karyanya masih bertebaran di mana-mana, di bangku-bangku sekolah, di ruang-ruang diskusi sastra dan bahkan di stasiun Yeouido dan Stasiun Gangnam di Korea Selatan seperti yang diberitakan media baru-baru ini.

Saya ingin seperti Chairil yang terus hidup melalui karya-karyanya. Saya juga tidak ingin hidup seperti hewan ternak seperti yang disebutkan oleh Yusi Avianto Pareanom dalam novelnya yang berjudul, “Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi,”.

“Menulislah agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih,” kata Loki Tua, salah satu karakter novel tersebut.

Pendek kata saya ingin tetap menulis untuk menghasilkan karya yang bisa berguna, bermanfaat dan bisa dinikmati meski kelak saya telah tiada. Komitmen ini membuat saya lebih keras kepada diri sendiri soal menulis. Di sisi lain, jika terus saya lakukan maka akan menimbulkan suatu kelegaan, bahwa hidup yang selama ini saya jalani tidaklah sia-sia.

Tidak terdeteksi kapan pertama kalinya saya menulis, mungkin cerita pendek yang saya buat  ketika kelas 3 SD, atau setelahnya. Kala itu harapan saya tidak muluk-muluk, saya menulis karena saya suka dan ingin berbagi cerita. 

Semasa berkuliah saya juga sempat menulis di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) kampus. Kami membuat buletin mingguan, tabloid dan majalah. Kami mengkritisi berbagai kebijakan baik pemerintah maupun kebijakan kampus kami sendiri. 

Tulisan pers kampus kala itu cukup memberikan dampak. Beberapa kebijakan diubah dan beberapa kesalahan diperbaiki. Saat itulah saya menemukan alasan lain untuk menulis yaitu membawa perubahan.

Ternyata dari apa yang kita tulis bisa memberikan dampak serta perubahan untuk sekitar. Ternyata se-powerfull itu sebuah tulisan. Saya pun jadi semakin excited untuk menulis. Sayangnya di tahun-tahun itu keberadaan blog belum sepopuler seperti sekarang. Media untuk menulis pun masih terbatas. Barulah di tahun 2012 saya mulai mengenal dan menulis blog baik yang sifatnya pribadi maupun yang berbentuk platform.

Menulis di blog pribadi berbeda dengan pers, isinya lebih personal dan kalaupun harus mengkritisi suatu kebijakan maka sifatnya personal. Mulanya saya hanya ingin terus menulis dan menuangkan apa yang ada di kepala tapi ternyata lama-lama tulisan-tulisan itu dengan sendirinya memberikan saya penghasilan lewat proyek kolaborasi dengan brand. Memang tidak sebesar kalau bekerja di kantoran tapi cukup membuat saya bahagia. 

Saat itulah saya menemukan alasan lain menulis blog yaitu menambah penghasilan. Sebenarnya saya tidak terlalu aktif ngeblog jika dibanding dengan teman-teman blogger yang lain, saya menulis sesekali kalau ada jeda waktu bekerja atau memang sedang ada ide yang ingin dituangkan. Akibatnya perkembangan blog saya pun tergolong lambat, hanya sebatas coretan isi kepala dan beberapa keresahan yang selama itu saya rasakan.

Tak ada prestasi maupun kemenangan yang saya raih dalam 10 tahun ngeblog yang ada adalah rasa puas karena bisa merepresentasikan buah pikiran, menyampaikan cerita-cerita positif dan sesekali mengkritisi berbagai kebijakan maupun kondisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Syukur-syukur jika buah pikiran saya bisa jadi bahan pertimbangan pemerintah ketika mengambil sebuah kebijakan. Rasa-rasanya itu sudah cukup. 

Bisa dibilang saya baru mulai intens untuk ngeblog itu di 1 tahun belakangan. Saya mulai menata kembali blog yang sudah lama bersawang. Saya juga mulai bergabung dengan beberapa komunitas seperti salah satunya Komunitas Bloggercrony Indonesia (BCC). Ada hal yang beberapa tahun belakangan saya pelajari, bahwa komunitas punya peran penting bagi seorang blogger.

Komunitas adalah wadah yang bisa dipakai untuk belajar, meningkatkan kemampuan, menjalin relasi, hingga jembatan kerjasama baik yang sifatnya sosial maupun bisnis. Pendek kata, melalui komunitas, jalan yang harus ditempuh para blogger bisa menjadi lebih mudah dan ringan.

Saya menyadari hal itu meski sedikit terlambat. Bukan sedikit, tapi memang terlambat. Dari belasan tahun  ngeblog saya baru mengenal Komunitas Blogger Indonesia di beberapa tahun belakangan. Ada rasa kecewa ketika mengatakannya. Sebuah penyesalan mengapa tidak dari dulu-dulu saya mengakrabkan diri dengan teman-teman komunitas.

Tak mau menyesal lebih jauh akhirnya saya pun merajinkan diri ikut berbagai kegiatan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Komunitas Bloggercrony (BCC). Ada beberapa program di BCC di antaranya : BloggerHangout, BloggerView, BloggerPreneur dan BloggerCare.

BloggerHangout sendiri merupakan kegiatan yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan. Sebuah ajang kopdar dari para member untuk upgrade kemampuan terkait blogging. Sejak bergabung tahun 2024 lalu, saya sendiri sudah mengikuti Blogger Hangout sebanyak 4 kali. 

Selain Blogger Hangout ada juga kegiatan rutin tahunan bernama BloggerDay. Event ini diselenggarakan setahun sekali dan biasanya waktunya berdekatan dengan ulang tahun Bloggercrony Community tanggal 24 Februari. Saya sendiri baru 2 kali mengikuti Blogger Day, tahun 2024 lalu dan yang baru-baru ini terselenggara di Parung, Bogor.

Sedih rasanya ketika pertama kali mendengar bahwa Blogger Day di awal tahun 2025 ini adalah last annual. Kabar ini juga sempat mengguncang seluruh teman-teman BCC yang lain. Untuk saya pribadi tentu kecewa, baru ikut satu kali tapi sudah bertemu last annual

Meski sebenarnya di tanggal tersebut saya ada acara akhirnya saya batalkan demi bisa mengikuti last annual-nya BloggerDay. Ternyata oh ternyata, last annual yang dimaksud adalah bahwa BloggerDay tetap diselenggarakan  tapi tidak lagi secara tahunan.  

Ya iyalah ya, sesuai namanya “last annual”, mungkin karena rasa sedih lebih dulu menguasai, logika kita semua jadi terabaikan. Setelah 2025, perayaan BloggerDay akan kembali diselenggarakan di 2028 nanti kok. Good news, everyone!

Serba Serbi BloggerDay 2025

Pagi 22 febuari 2025, pesan yang dikirim ke Whatsapp Peserta BloggerDay oleh Pak Bambang membuat saya panik. Bagaimana tidak, waktu masih menunjukkan pukul 8.42 WIB tapi beliau sudah berada di lokasi. Kalau menurut jadwal seharusnya para peserta baru berkumpul pukul 11.00 untuk daftar ulang. Waduh.

Saya pun akhirnya bergegas menuju ke titik lokasi dengan diantar suami menggunakan sepeda motor. GPS kami arahkan ke sebuah Yayasan sosial di kabupaten Bogor bernama Yayasan Indah Berbagi (YIB). Di sanalah BloggerDay 2025 akan diselenggarakan. 

Butuh sekitar 1 jam dari rumah menuju ke titik lokasi. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin rimbun, banyak pepohonan di kanan kiri. Daerah Parung memang dikenal masih asri dibanding tempat tinggal saya di Depok, wajar jika udaranya masih sejuk dan masih banyak ditemukan pepohonan.

Kantor YIB ada di tengah perkampungan. Plang bertuliskan nama yayasan lengkap dengan profil dan visi misi berdiri kokoh di depan office seolah memudahkan kami dalam melakukan pencarian.

“Ini benar Yayasan Indah Berbagi, Pak?” tanya saya kepada penjaga dan disambut anggukan oleh si Bapak.

Si Bapak pun memandu saya untuk menuju ke lokasi yang letaknya sedikit menjorok ke dalam. Bermacam tanaman tertata rapi di jalanan yang saya lalui seolah menyapa setiap pengunjung yang datang. Tak berselang lama, akhirnya saya bertemu dengan gedung putih 2 lantai dengan anak tangga yang berada di luar.

Saya menaiki anak tangga itu untuk menuju ke lantai 2. Di dalam ruangan suasana masih hening, beberapa pengurus BCC terlihat sibuk menyiapkan banyak hal. Belum ada tanda-tanda peserta yang hadir di sana. 

Pak Bambang yang tadi pagi membuat panik grup menyambut dan menggiring saya untuk rehat. Belakangan saya tahu kalau ternyata beliau adalah volunteer jadi datang lebih awal. Haduh Pak Pak, bikin panik aja!

Semakin siang temen-temen blogger pun mulai berdatangan. Kami sempat ngobrol sembari menunggu acara dimulai. Iseng-iseng saya membuat video bersama teman-teman tentang alasan mereka masih ngeblog sampai dengan sekarang.

Kebanyakan adalah karena mereka memang suka menulis, yang dulunya di diary jadi beralih ke blog. Ada juga yang ngeblog karena kebutuhan akan pekerjaan, menambah pendapatan, sarana mengekspresikan diri, pengalihan kegiatan dari aktivitas rumahan hingga ingin menorehkan jejak digital untuk anaknya kelak. 

“Biar anak-anak bisa baca, apa sih yang pernah dilakuin sama ibunya,” kata Mbak Hiquds, salah satu blogger yang masih aktif menulis hingga sekarang. 

Bagi saya itu salah satu jawaban keren. Andai suatu saat  punya anak, saya pun ingin meninggalkan banyak jejak tulisan agar kelak mereka membacanya dan tau apa saja yang ibunya lakukan dan pikirkan di masa lalu.

Apa yang teman-teman sampaikan selaras dengan tema BloggerDay “Meneguhkan AKAR (Aktif, Kreatif, Adaptif, Relevan), Mengukir Jejak Digital.” Melalui BloggerDay diharapkan teman-teman blogger dapat menguatkan kembali komitmen terhadap nilai nilai otentik yang mendasari mereka masuk ke dunia blogging. Melalui BloggerDay pula diharapkan para blogger bisa mendapatkan ruang untuk meningkatkan keterampilan, menambah wawasan serta memperbanyak relasi dengan berbagai pihak.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan dunia yang semakin cepat peran blogger masih tetap relevan terutama dalam menghadirkan tulisan yang jujur, otentik, humanis yang didasarkan pada pengalaman secara personal. 

“Sepuluh tahun lalu kita berkumpul bersama di Bloggercrony karena hobi menulis di platform blog. di BloggerDay 2025, kami coba mengingatkan kembali agar kita tetap bisa menjaga akar semangat kita menulis seperti 10 tahun lalu,” ujar Satto Raji, ketua BloggerDay 2025.

Setelah makan siang dan salat dhuhur, acara pun dimulai dengan dipandu oleh MC Kak Febria Silaen dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan seperti sambutan ketua Bloggerday Kak Satto Raji serta Direktur Eksekutif BCC Kak Fawwaz Ibrahim. Ada juga welcome speech sekaligus pengenalan YIB oleh Ketua Yayasan Indah Berbagi Bpk Ade Subagyo. 

Dari sebelah kiri Fawwaz Ibrahim, Satto Raji, Ade Subagyo, Harry Wahyudi

Acara semakin intens ketika founder Komunitas Bloggercrony Indonesia, kak Wardah Fajri mulai sharing serta update berbagai info mengenai komunitas BCC meliputi struktur organisasi hingga peralihan jabatan pengurus yang dilanjutkan dengan  selebrasi potong kue dan doa bersama.

sesi potong kue dan doa bersama

Menginjak pukul 14.00 acara pun beranjak lebih meriah dengan kehadiran Koh Harry Wahyudi, S.Kom, C.NLP selaku pembina Youth Skill Foundation yang membahas mengenai “Jalan Kreatif dengan Mengenal Diri.” Di sini peserta diajak untuk lebih mengenal dan mencintai diri sendiri dengan cara yang menyenangkan.

Diskusi berjalan dengan lancar karena penjelasan dari Koh Harry sangat mudah dipahami dan disampaikan dengan cara yang menyenangkan. 

Koh Harry Wahyudi, pembina Youth Skill Foundation

Peserta semakin berantusias ketika memasuki sesi pembagian hadiah. Ada lucky draw, penyematan Most Wanted Blog Awards 2025, pengumuman hadiah coaching Canva dan grafologi serta pemenang peserta in time, on time serta games-games menarik lain.

Banyak hadiah bertebaran dalam acara BloggerDay. Semua itu tak luput dari dukungan para Bloggerpreneur seperti di antaranya :

  • Zindo Mart toko aneka kurma, madu dan oleh-oleh haji dan umroh, 
  • Bukufaridapane koleksi novel berbagai genre, 
  • Milla Vanilla Hand Made Product, spray deodoran tawas kalium, 
  • Kamiya Project, produk dekorasi dinding, tote bag, tumbler, gelas dan pernik-pernik menarik

Pukul 16.45 acara inti bisa dibilang telah selesai. Peserta diarahkan untuk berpindah ke Saung Kampung Sawah yang letaknya sekitar 140 meter dari kantor Yayasan Indah Berbagi. Di Saung itulah kami akan menamatkan malam, saling mengakrabkan diri sembari menggali ilmu dari para mentor yang sudah jauh-jauh hadir. 

Saya sendiri sempat kaget ada tempat saung seunik itu di daerah Parung. Bangunanya terbuat dari bambu alam yang berdiri di atas kolam dan bernuansa pedesaan. Gemericik air, polah tingkah ikan-ikan hingga suara soang memberikan kesan tentram bagi para pengunjungnya. 

Suasana di saung Kampung Sawah

Hari itu Saung Kampung Sawah dikondisikan untuk menyambut kami. Teman sekamar telah dibagi. Saya menempati saung bagian atas bersama 3 rekan lain. Saung yang kami tempati cukup luas sehingga kami leluasa melakukan aktivitas di dalamnya.

Malam di Saung Kampung Sawah 

Ketika malam, lampu-lampu di area saung menambah kesan hangat pada tempat ini. Warna jingga langit beradu dengan temaram lampu yang menerangi bambu-bambu membuat suasana semakin syahdu. Kami menggunakan waktu istirahat untuk banyak hal, salat, mandi, bercengkerama, mengakrabkan satu sama lain serta mengambil footage hingga tiba waktu untuk makan malam.

suasana malam di kampung sawah

Harus saya akui, makanan dari Saung Kampung Sawah tidak ada yang gagal. Semua enak dan pas dilidah. Saya yakin teman-teman blogger sependapat soal ini.

Dalam kondisi perut kenyang, kami lanjutkan aktivitas dengan sharing BloggerView bersama YIB dengan tema “Pengenalan YIB dan Peluang Fundraising” yang diisi oleh Bpk Whinda Heryawan selaku Pengawas Yayasan Indah Berbagi.

Keberuntungan datang bagi mereka para penanya terbaik karena mendapat buku puisi Ublik karya Moh. Suharsono yang juga salah satu anggota aktif dari BCC.

Pukul 20.00 seluruh peserta menepati sesi counseling, coaching dan mentoring masing-masing. Ada 3 kelompok yaitu Graphology bersama Diana Balienda, coaching Canva bersama Tripel C (Canva Creative Class) Kak Tuty Queen dan Moh. Suharsono serta bincang hangat bersama pengurus BCC bersama Pembina Youth Skill Foundation, Harry Wahyudi S.Kom.

Pembagian kelompok untuk para peserta sebelumnya sudah melalui tahap undian dan saya kebagian ke kelompok 3 yaitu bincang hangat bersama pengurus BCC dan Koh Harry. Acara berlangsung hangat dan akrab, kami mendapat pendalaman materi dari apa yang sudah disampaikan pada siang sebelumnya. 

Selepas acara kami sempat membunuh waktu di Warkop Boy yang letaknya di seberang Saung Kampung Sawah. Warkop ini juga merupakan salah satu unit usaha mandiri dari YIB. Jika dibandingkan dengan Saung Kampung Sawah, Warkop ini berkonsep lebih kekinian. Ada live music setiap malam minggu dan menunya pun lebih kekinian seperti contohnya cireng, rotibakar, mie rebus, dimsum dan aneka macam perkopian.

Warkop Boy tampak depan

Kami juga melepas penat dengan menyanyikan lagu-lagu lawas hingga yang populer di jaman now. Mohon maaf jika ada warga sekitar yang keracunan suara sumbang kami ketika menyanyi ya :(

Sekitar tengah malam kami kembali ke saung masing-masing dan menyerahkan kesadaran ke alam mimpi. Kami sdar, esok harus bangun pagi untuk meneruskan aktivitas kembali.

Minggu Pagi Penuh Gizi

Pagi di Saung Kampung Sawah terasa lebih syahdu, suara jangkrik, gemericik air dan soang masih saja setia menemani para penghuni saung. Musholla penuh lalu lalang orang yang ingin bergantian salat subuh. 

Saya memilih salat di Saung agar lebih praktis. Setelahnya saya mengambil sebuah keputusan berat yaitu mandi di pagi buta, sebelum orang-orang terbangun dan antrian menjadi panjang. 

Hari masih cukup pagi tapi sarapan kami sudah tersedia di gazebo tengah. Semua sesuai pesanan sebelumnya, ada mie nyemek, dimsum hingga roti bakar. Saya yang sudah memilih roti bakar tiba-tiba saja tergiur dengan mie nyemek milik teman-teman. Akhirnya saya pun memesan mie nyemek juga. He, dasar.

Kenyang sarapan kami berkumpul di gazebo untuk belajar membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Seorang pria dari YIB menyambut kami sekaligus menjadi mentor praktik pagi itu. Saya yakin teman-teman sudah pernah mendengar mengenai minyak jelantah yang bisa diubah menjadi lilin aromaterapi tapi belum pernah mempraktikkannya, sama halnya dengan saya.

Teman-teman sendiri antusias dengan penjelasan dari si Masnya, mereka mendekatkan diri, mencoba secara langsung dan menanyakan beberapa hal seperti apakah crayon bisa diganti dengan benda lain atau apakah parfum juga bisa diganti? Kurang dari sejam, lilin-lilin dengan warna terang telah berderet dan mengeras di meja praktik. Kami mengambil jatah lilin kami masing-masing.

praktik membuat lilin dari minyak jelantah

Setelah menamatkan project membuat lilin, acara Blogger Day pun resmi ditutup. Setelah sesi foto bersama beberapa kawan blogger ada yang memutuskan untuk pulang tapi ada juga yang memilih stay, berkeliling untuk melihat kegiatan dan aktivitas minggu pagi di Yayasan Indah Berbagi. 

Lebih Dekat Yayasan Indah Berbagi

Seluruh anggota BCC banyak-banyak  berterima kasih untuk Yayasan Indah Berbagi yang berperan sebagai official partner terselenggaranya BloggerDay 2025 ini. Selain menyediakan tempat YIB juga menyediakan akomodasi berupa makanan minuman serta penginapan.

Yayasan Indah Berbagi adalah lembaga non profit yang mempunyai misi menjadi yayasan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Salah satu konsern dari Yayasan Indah yaitu memberdayakan masyarakat pedesaan melalui program-program di bidang keagamaan, ekonomi, sosial dan budaya, pendidikan dan lingkungan.

Selain program sosial, YIB juga mengupayakan kemandirian ekonomi melalui beberapa unit usaha yang dikelola oleh para relawan. Keuntungan yang didapat dari unit usaha ini nantinya akan digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan dan program sosial dari YIB.

Salah satu unit usaha YIB yang mendukung kegiatan BloggerDay 2025 adalah Saung Kampung Sawah dan Warkop Boy. Selain menyediakan berbagai menu makanan dan minuman, Saung Kampung Sawah juga menyediakan fasilitas menginap dan meeting room baik yang bernuansa pedesaan maupun ruangan berpendingin dengan fasilitas meeting room yang sudah dilengkapi dengan wifi.

Program-program yang sudah dijalankan oleh YIB contohnya adalah program sedekah beberapa contohnya seperti sedekah sumur (yang hingga kini sudah mencapai 87 sumur), sedekah anak yatim, program donasi sedekah sejuta Al Qur’an, Iqra’ dan beras hingga berbagi nasi kotak bagi masyarakat yang membutuhkan. 

Dalam bidang pendidikan YIB juga mengadakan berbagai pembelajaran untuk masyarakat sekitar di antaranya ; pembelajaran bahasa Inggris untuk kelas A dan B, pembelajaran public speaking dan program edukasi minggu cerdas yang rutin diadakan setiap minggu pagi. Ada sekitar 100 anak mulai dari TK hingga SMA yang berantusias mengikuti kegiatan minggu cerdas ini. 

kegiatan Minggu Cerdas yang diadakan rutin setiap minggu pagi

Dalam bidang kesehatan, YIB juga melakukan program pendampingan dalam program posyandu yang bertujuan mendukung kesehatan ibu dan anak di desa terkait dan ada juga kegiatan senam jantung sehat bersama masyarakat sekitar.

Selain program-program sosial, YIB juga punya program fokus terhadap isu lingkungan di antaranya membuat kebun galon, sebuah kebun ramah lingkungan yang dibangun dari galon bekas. Kebun ini terletak tak jauh dari kantor utama YIB. Tempatnya penuh warna warni dan mudah menarik perhatian siapapun yang melewatinya. 

Kebun Galon bekas Yayasan Indah Berbagi

Di kebun ini ditanam aneka macam sayuran seperti kangkung, cabai, tomat, sawi dan kawan-kawannya. Sayur-sayur ini nantinya dipanen untuk memenuhi dapur-dapur di unit usaha resto  YIB. Kebun galon ini juga menerapkan konsep ramah lingkungan.  Selain memanfaatkan galon bekas, kebun ini juga membuat pupuk kompos dari sampah sisa makanan mereka sehari-hari.

Sejak di hari itu saya teringat kembali alasan sedari awal saya menulis. Bahwa saya ingin tetap hidup melalui tulisan-tulisan yang saya buat. Saya ingin menyampaikan  cerita-cerita positif yang salah satunya tentang Bloggercrony sebagai komunitas yang tak hanya menjadi wadah dan rumah bagi para blogger tapi juga membantu mereka berdaya dan memperluas jaringan kerjasama. 

Saya juga harus menyampaikan cerita bahwa di tengah kondisi dunia yang semakin acuh tak acuh, ada sebuah yayasan yang masih memikirkan tentang nasib manusia lain dan kesehatan bumi yang kita tinggali ini. Mungkin bagi orang lain ini bukan hal besar, tapi bagi saya ini sesuatu yang membahagiakan karena bisa menjadi bagian yang turut menceritakannya melalui tulisan. Yah, kurang lebih seperti itulah cara saya memaknai hidup.

Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments